Penjelasan Kitab Tajilun Nada (Bag. 33): Huruf أَنْ yang Boleh Dilesapkan (Al-Mudhmarah Jawazan)
Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa huruf أَنْ terkadang boleh ditampakkan dan boleh pula dilesapkan. Beliau mengatakan,
مُضْمَرَةً جَوَازًا بَعْدَ عَاطِفٍ مَسْبُوقٍ بِاسْمٍ خَالِصٍ
“Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf yang didahului oleh isim murni (isim khalish).”
Beliau memberi contoh:
وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي
“Memakai pakaian abaya dan mataku menjadi tenang.”
Beliau juga menyebutkan bahwa huruf أَنْ boleh dilesapkan setelah huruf lam, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nahl ayat 44,
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)
Pengertian huruf أَنْ mashdariyyah
Huruf أَنْ mashdariyyah, baik yang tampak (zhahir) maupun yang dilesapkan (mudhmarah), berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’.
Huruf أَنْ memiliki tiga keadaan, yaitu:
Pertama: Boleh dilesapkan (jawazan);
Kedua: Wajib ditampakkan; dan
Ketiga: Wajib dilesapkan.
Pembahasan kali ini berkaitan dengan keadaan pertama, yaitu huruf أَنْ yang boleh ditampakkan ataupun dilesapkan.
Huruf أَنْ boleh dilesapkan apabila terletak setelah huruf athaf dan sebelumnya terdapat isim jamid murni, yaitu isim yang tidak mengandung makna fi‘il dan tidak dapat ditakwil menjadi fi‘il.
Biasanya, isim tersebut berbentuk mashdar. Adapun huruf athaf yang dimaksud adalah: و ,ف, ثم ,أو
Pertama: Setelah huruf و (waw)
Contohnya adalah:
عَمَلٌ وَأُحَصِّلَ رِزْقِي خَيْرٌ مِنْ رَاحَةٍ وَأَمُدَّ يَدِي لِلسُّؤَالِ
“Bekerja dan aku mencari rezekiku itu lebih baik daripada bersantai lalu mengulurkan tanganku untuk meminta-minta.”
Pada kata وَأَمُدَّ terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan. Asalnya adalah وَأَنْ أَمُدَّ. Meskipun huruf أَنْ tidak tampak, tetap ada pengaruhnya, yaitu me-nashab-kan fi‘il mudhori’ setelahnya.
Contoh lainnya adalah perkataan seorang perempuan:
وَلُبْسُ عَبَاءَاتٍ وَتَقَرَّ عَيْنِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ لُبْسِ الشُّفُوفِ
“Memakai pakaian abaya dan kedua mataku tenang itu lebih aku sukai daripada memakai pakaian tipis.”
Kata لُبْسُ pada contoh di atas berkedudukan sebagai mubtada marfu’. Sedangkan kata وَتَقَرَّ adalah fi‘il mudhari’ manshub karena adanya huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf waw athaf.
Adapun kata عَيْنِي berkedudukan sebagai fa‘il marfu’ dengan dhammah muqaddarah. Sementara yaa mutakallim menjadi mudhaf ilaih. Kemudian kata أَحَبُّ menjadi khabar mubtada’.
Kedua: Setelah huruf ف (faa’)
Contohnya adalah:
إِنَّ دِرَاسَتِي النَّحْوَ فَأَسْتَفِيدَ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ دِرَاسَةِ الْبَلَاغَةِ
“Sesungguhnya aku mempelajari ilmu nahwu, lalu aku mendapatkan faedah darinya itu lebih aku sukai daripada mempelajari ilmu balaghah.”
Kata فَأَسْتَفِيدَ pada contoh di atas berkedudukan manshub karena terdapat huruf an yang dilesapkan setelah huruf faa’. Asal katanya adalah فَأَنْ أَسْتَفِيدَ.
Ketiga: Setelah huruf ثم (tsumma)
Contohnya adalah:
إِنَّ جَمْعِي الْمَالَ ثُمَّ أُمْسِكَهُ دَلِيلُ الْحِرْمَانِ
“Sesungguhnya aku mengumpulkan harta kemudian aku menahannya merupakan tanda terhalang dari kebaikan.”
Pada kata أُمْسِكَهُ, asalnya adalah أَنْ أُمْسِكَهُ. Huruf أَنْ dihapus secara “boleh” (jawazan), bukan wajib.
Keempat: Setelah huruf أو (aw)
Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللّٰهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا
“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan.” (QS. Asy-Syura: 51)
Pada kata يُرْسِلَ dibaca manshub karena terdapat huruf أَنْ yang dilesapkan setelah huruf أَوْ. Asalnya adalah أَوْ أَنْ يُرْسِلَ. Huruf an bersama fi‘il setelahnya membentuk mashdar muawwal yang di-athaf-kan kepada kata وَحْيًا.
Demikianlah bacaan tujuh imam qira’at, kecuali Imam Nafi‘ Al-Madani yang membaca يُرْسِلُ dengan keadaan marfu’.
Kesimpulan
Huruf an mashdariyyah berfungsi me-nashab-kan fi‘il mudhari’, baik dalam keadaan tampak maupun dilesapkan.
Huruf an boleh dilesapkan apabila:
1) Terletak setelah huruf athaf;
2) Didahului oleh isim jamid murni; dan
3) Huruf athaf tersebut berupa: و ,ف, ثم ,أو
Dalam keadaan seperti ini, fi‘il mudhari’ setelahnya tetap manshub walaupun huruf أَنْ tidak tampak dalam lafaz.
Pembahasan ini menunjukkan ketelitian kaidah nahwu Arab, di mana keberadaan suatu amil terkadang diperkirakan walaupun tidak disebutkan secara langsung dalam susunan kalimat.
[Bersambung]
***
Penulis: Rafi Nugraha
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/114400-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-33.html